Jumat, 11 April 2008

Pelatih Berhati Mulia

Ukuran tubuhmu kurang penting, ukuran otakmu agak penting, ukuran hatimu adalah yang peling penting (B.C. Gorbes)

Di penghujung tahun 1940-an, di Cincinnati, Ohio, tinggal seorang bocah lelaki kecil yang ingin menjadi anggota tim football “pee wee” di sekolah agamanya yang setingkat SD. Ukuran berat badan minimum untuk menjadi anggota tim adalah 35 kg. si bocah kecil itu berusaha keras agar berat badanya memenuhi persyaratan itu. Si pelatih tahu benar betapa besar keinginan si bocah untuk menjadi anggota tim. Jadi, dia mendorongnya untuk ”menggemukkan diri” dengans etiap hari makan pisang dan minum saridele. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, berat badan si bocah mencapai 34,5 kilogram, merasa agak ragu, tetapi masuk juga dalam daftar nama anggota tim.

Sepanjang musim pertandingan, si pelatih menjadikan si bocah itu sebagai pemain cadangan demi kebaikannya juga. Batas ukuran terberat sebagai anggota liga adalah 60 kg, dan si pelatih tidak ingin bocah itu cidera. Namun, pada pertandingan terakhir di musim itu, tim kekurangan pemain dan si pelatih mau tak mau harus memainkan si bocah untuk menghindari kekalahan. Si pelatih memasangnya di bagian bertahan yang aman, dan membayangkan bahwa si bocah akan berada di luar selama permainan adu badan yang keras. Tapi, entah mengapa, pada game terakhir, pemain full-back dari tim lawan berhasil menerobos garis, menghindari garis pertahanan kedua, dan berlari menuju si bocah.

Ketika si bocah mengintip dari balik helmnya, yang kebesaran dan terus-menerus jatuh menghalangi matanya, dilihatnay si pelari itu mendekat. Si bocah membungkuk dan bersiap-siap untuk menebas jatuh si pemain yang berat tubuhnya 60 kg itu. Ketika si pelari semakin dekat, yang bisa digumamkan si bocaj hanyalah, ”kakinya berbulu lebat!”. padahal, dia hanyalah seorang anak yang berat badanya tidak sampai 35 kg, tetapi hendak menebas raksasa ”jabrig” itu. Pada saat yang tepat, si bocah mengulurkan tangannya untuk memegang kaki si full-back, berhasil merangkul sebelah kakinya, dan memeluknya sekuat tenaga sambil tubuhnya terseret oleh gerakan si full-back yang akhirnya terjatuh itu. Yang terlihat oleh si bocah kecil itu hanyalah tanah kotor karena helmnya menghantam tanah ketika dia terseret terus sampai ke zone akhir.

Karena merasa sangat malu oleh kejadian itu, si bocah menahan air matanya dan merasa sedih karena telah mengecewakan timnya. Dia kaget sekali ketika si pelatih dan seluruh anggota timnya berlarian ke lapangan untuk memberinya selamat. Si pelatih memujinya karena dia pantang menyerah dan karena tidak membiarkan lawannya yang bertubuh besar itu menggetarkan hatinya untuk tidak menebasnya. Teman-teman satu timnya mendukungnya di bahu mereka dan mereka menobatkannya menjadi ”pemain paling berani”.

Nama si pelatih itu Dan Finley, dan si bocah itu adalah Saya.

Di masa mudanya, Dan, yang sekarang berusia 40-an, adalah seorang atlet hebat yang berpeluang besar bermain di liga utama. Tetapi, Dan terserang polio dan hanya bisa berjalaan dengan bantuan alat penjepit kaki dan sebuah tongkat. Dia memutuskan untuk menyalurkan energinya dengan melatih anak-anak. Kegembiraan bermain telah direnggut terlalu awal darinya, dan dia ingin menolong anak-anak agar dapat benar-benar menikmati waktu mereka dengan bermain di lapangan. Sampai sekarang, dia masih melakukan hal itu.

By. Darrell J. Burnett, Ph.D; Chicken Soup for The Soul at work.

Selasa, 25 Maret 2008

Pekerjaan Sehari-hari

Seandainya saya dapat meringankan rasa sakit,
atau meredakan rasa nyeri seseorang, atau menolong seekor burung murai yang kebingungan kembali ke sarangnya lagi, hidup saya tak akan sia-sia

(EmilyDickinson)

Lelaki itu dikirim ke unit gawat darurat dan ditempatkan di bagian penyakit jantung. Rambutnya panjang, janggutnya tak dicukur, tubuhnya gemuk dan kotor, dan jaket hitamnya tergeletak di rak bagian bawah usungannya. Dia sungguh tak pantas berada di gedung steril berlantai teraso mengkilat itu, yang dihuni para profesional berpakaian seragam yang gesit, yang sangat memperhatikan prosedur pengawasan mengenai kemungkinan tertular penyakit. Benar-benar sosok yang tak tersentuh.

Para perawat di bagian itu terbelalak ketika sosok tubuh manusia itu disorong melintasi mereka. Semua memandang kepada Bonnie, si kepala perawat. “Jangan suruh saya memandikan dan menangani dia”. Begitu kira-kira permintaan mereka yang tak terucapkan.

Salah satu tanda sejati seorang pemimpin, seorang profesional yang istimewa, adalah melakukan hal yang tak terpikirkan. Menangani hal yang mustahil. Menyentuh yang tak tersentuh. Bonnie-lah yang berkata, “Biar saya tangani sendiri pasien ini”. Sungguh sesuatu yang tak biasa untuk seorang kepala perawat, tak lazim, tetapi dari sikap yang demikian itulah jiwa yang manusiawi berkembang, menjadi sembuh, dan membumbung tinggi.

Ketika Bonnie mengenakan sarung tangan karetnya dan hendak memandikan pasien yang berbadan besar dan kotor itu, hatinya nyaris hancur karena iba. Dimanakah keluarganya? Siapa ibunya? Seperti apakah dia sewaktu kecil? Bonnie bersenandung kecil sambil bekerja. Tampaknya hal itu meredakan rasa takut dan malu yang dia tahu tengah dirasakannya.

Kemudian, dia berkata, “Sekarang ini di rumah sakit biasanya punggung tidak pernah diseka karena tidak ada banyak waktu, tapi kalau punggungmu diseka, pasti enak rasanya. Dan hal itu bisa membuat otot-ototmu terasa lebih lemas dan kamu akan mulai sembuh. Memang untuk itulah tempat ini…tempat untuk menyembuhkan”.

Kulit pasienitu tebal, bersisik, dan merah, menunjukkan gaya hidup seorang yang sering menyalahgunakan sesuatu: mungkin sering ketagihan makanan tertentu, alkohol, dan obat-obatan. Ketika Bonnie menyeka otot-otot tegangnya itu, dia bersenandung dan berdoa. Bonnie berdoa untuk jiwa seorang anak lelaki kecil yang sedang tumbuh, dan ditolak oleh kehidupan yang kasar dan berjuang untuk bisa diterima dalam dunia yang kejam dan tak bersahabat.

Yang terakhir adalah minyak gosok dan bedak bayi. Sungguh menggelikan, betapa kontrasnya dengan permukaan kulit yang asing dan besar ini. Ketika si pasien itu berbalik dan berbaring terlentang, air matanya meleleh, dan dagunya gemetar. Dengan nuka coklatnya yang sungguh menawan, dia tersenyum dan berkata dengan suara bergetar. “ Tak ada seorang pun yang mau menyentuh saya selama bertahun-tahun. Erima kasih. Saya merasa mulai sembuh”.

By. Naomi Rhode, “Chicken Soup for The Soul at Work”